Skip to content

Sejarah Candlestick

Desember 17, 2010

Adalah Munehisa Homma, seorang pengusaha beras di Jepang pada tahun 1700-an yang paling terkenal dalam memprediksikan pergerakan harga-harga beras pada masanya dan masa yang belum terjadi dengan menggunakan harga-harga yang sudah lalu. Sebelu, kita membahas lebih lanjut tentang Munehisa Homma, mari kita kembali ke akhir tahun 1500-an hingga pertengahan 1700-an. Pada masa ini Jepang yang berjumlah 60 propinsi dan bersatu menjadi negara dengan jalur perniagaan yang pesat. Sebelumnya, saat tahun 1500 sampai 1600, Jepang meruapkan negara yang dipenuhi peperangan antara “daimyo” (yang berarti “Tuan Feodal”) yang satu dengan “daimyo” yang lain untuk saling memperebutkan wilayah yang berdekatan. Jaman yang tidak teratur ini disebut sebagai “Jaman Peperangan Negara” atau dikenal dengan “Sengoku Jidai”. Kemudian hari, pada awal tahun 1600-an, muncul 3 orang Jenderal yang luar biasa yang bernama Nobunaga Oda, Kideyoshi Toyotomi, dan Ieyasu Tokugawa yang berhasil menyatukan Jepang selama 40 tahun kedepan. Prestasi dan usaha yang mereka dapatkan tetap diperingati dalam sejarah dan adat istiadat orang Jepang. Beberapa orang Jepang mengatakan : “Nobunaga menumbuk padi, Hideyoshi mengaduk adonan, dan Tokugawa yang memakan kuenya”. Dengan kata lain, ketiga jenderal inilah yang plaing berperand alam menyatukan Jepang. Tetapi Tokugawa, orang terakhir dari jenderal hebat ini kemudian menjadi seorang Shogun. Keluarga Shogun Tokugawa kemudian memerintah negara Jepang dari tahun 1615 sampai 1867. Era ini dikenal dengan “Tokugawa Shogunate”. Dalam masa kepemimpinannya, strategi kemiliteran yang diterapkannya yang membuat Jepang selama berabad-abad telah menjadi bagian awal dalam terminologi candlestick. Kemampuan dalam strategi, psikologi, kompetisi, strategi untuk membalikkan keadaan dan keberuntungan menjadi kebutuhan dalam memenangkan peperangan. Jadi tidaklah mengherankan dalam candlestick terdapat istilah “Advancing Three Soldiers Pattern”, “Counter Attack Lines”, dan sebagainya. Stabilitas relatif dalam sistem feodal pusat Jepang, yang dipimpin oleh Tokugawa menawarkan kesempatan baru. Perekonomian agraris berkembang pesat dan yang terpenting menjadi pengembangan dan kemudahan dalam perdagangan domestik. Pada abad ke-17, perdagangan nasional lambat laun menggantikan sistem perdagangan pasar lokal yang terisolasi. Konsep perdagangan yang terpusat merupakan cikal bakal dari analisa teknikal di Jepang. Sebelum tahun 1710, rakyat Jepang melakukan transaksi perdagangan beras dengan cara menukarkan beras dengan beras asli lainnya. Transaksi yang terjadi adalah mereka menawar, meningkatkan penukaran beras dan menentukan harga pasar. Setelah mengalami perkembangan jaman dan pergeseran cara bertransaksi hingga tahun 1710, perdagangan beras ini kemudian mulai menggunakan tanda terima yang dikenal dengan kupon beras. Tanda terima beras inilah yang menjadi kontrak pertama antar pedagang yang pertama. Perdagangan beras saat itu menjadi dasar dari kemakmuran kota Osaka, yang mana terdapat lebih dari 1.300 distributor beras. Pada saat itu, selain tidka mempunyai nilai mata yang yang standar (saat itu masa peralihan dari mata uang koin menjadi alat tukar lainnya gagal) beras menjadi penukaran defakto menengah. Jika seorang daimyo yang sedang membutuhkan uang, i9a akan mengirim kelebihan berasnya ke Osaka dan kemudian akan disimpan dalam gudang dengan label namanya, dan kemudian ia akan menerima kupon sebagai tanda terimanya. Ia pun dapat menjual kuponnya setiap saat. Berhubung karena masalah pajak yang dirasakan oleh para daimyo, mereka pun sering menjual kupon berasnya untuk menghindari pajak pengiriman beras berikutnya dari pemerintah (pajak sebesar 40% – 60% yang harus ditanggung oleh daimyo sesuai dengan panen dan dibayar dalam bentuk beras). Dengan adanya sistem kupon ini, merupakan solusi yang sangat efektif dijalankan dalam perdagangan. Kupon beras yang dijual untuk menghindari pajak pengiriman berikutnya inilah yang menjadi “world’s first future contracts”. Kupon beras biasa disebut sebagai kupon “beras kosong” (dimana beras tidak dimiliki dalam bentuk fisik sesungguhnya). Dari latar belakang inilah, kemudian muncul seorang yang bernama Munehisa Homma (1724 – 1803). Homma merupakan seorang anak terbungsu dari seorang saudagar kaya di Jepang. Ia kemudian ditunjuk untuk meneruskan bisnis keluarganya pada tahun 1750. Homma memulai kegiatan berdagang berasnya di perdagangan lokal dekat kota pelabuhan yang bernama Sakata, yang merupakan area pusat untuk mengumpulkan dan mendistribusikan beras. Dalam istilah candlestick terdapat kata “Sakata’s Rules”, sebutan ini ditujukan kepada Homma atas kepiawaiannya dalam memahami pergerakan pasar. Dari hal tersebut, kemudian Homma juga dikenal sebagai “God of the market”. Dengan modal pengetahuannya inilah Homma terjun ke dalam transaksi perdagangan beras terbesar di Osaka yaitu di Dojima dan memulai transaksi perdagangan berasnya hingga dia menjadi populer di masa depan. Kekuasan Homma sangat mempengaruhi harga pasaran beras, ia mengumpulkan laporan cuaca tahunan dan menganalisa transaksi perdagangan beras di Yodoya (perdagangan beras Dojima di Osaka) demi mempelajari psikologi para investor. Bahkan ia juga menempatkan para pekerjanya di atas dengan bendera untuk mengirim signal perdagangan dari Osaka hingga Sakata. Dengan ketekunan dan keteladanan Homma, ia berhasil mendominasi perdagangan di Osaka. Setelah itu, Homma mulai mengembangkan sayapnya dengan berdagang di pasar regional Edo (yang sekarang dikenal dengan Tokyo). Keberuntungannya sangat berlipat ganda, bahkan konon banyak sekali yang mengatakan keuntungan yang didapat oleh Homma pernah mencapai 100 kali berturut-turut. Nama besar dan kehormatan Homma oleh orang-orang di Edo dituangkan dalam lagu : “Jika di Sakata bersinar (kota Homma), maka berawan di Dojima (perdagangan beras Dojima di Osaka) dan hujan di Kurumae (perdagangan Kuremae di Edo).” Dengan kata lain jika terdapat panen beras yang bagus di Sakata, harga beras turun di perdangan beras Dojima dan jatuh di Edo. Lagu ini menceritakan betapa besarnya pengaruh kekuasaan Homma dan strateginya di pasar perdagangan beras. Untuk kedepannya Homma kemudian menjadi konsultan bagi pemerintah dan diberi gelar samurai. Ia meninggal pada tahun 1803. Sebelumnya, Homma sempat menulis sebuah buku yang diperkirakan ditulis pada tahun 1700-an oleh Homma (Sakata Senho dan Soba Sano No Den). Buku ini menceritakan tentang prinsipnya berdagang, seperti yang digunakan dalam pasaran beras. Buku ini sangat mempengaruhi metodologi candlestick di Jepang dan hingga sekarang telah menjadi metode paling populer dalam transaksi bursa saham melalui pendekatan analisa teknikal. Adalah Munehisa Homma, seorang pengusaha beras di Jepang pada tahun 1700-an yang paling terkenal dalam memprediksikan pergerakan harga-harga beras pada masanya dan masa yang belum terjadi dengan menggunakan harga-harga yang sudah lalu. Sebelu, kita membahas lebih lanjut tentang Munehisa Homma, mari kita kembali ke akhir tahun 1500-an hingga pertengahan 1700-an. Pada masa ini Jepang yang berjumlah 60 propinsi dan bersatu menjadi negara dengan jalur perniagaan yang pesat. Sebelumnya, saat tahun 1500 sampai 1600, Jepang meruapkan negara yang dipenuhi peperangan antara “daimyo” (yang berarti “Tuan Feodal”) yang satu dengan “daimyo” yang lain untuk saling memperebutkan wilayah yang berdekatan. Jaman yang tidak teratur ini disebut sebagai “Jaman Peperangan Negara” atau dikenal dengan “Sengoku Jidai”. Kemudian hari, pada awal tahun 1600-an, muncul 3 orang Jenderal yang luar biasa yang bernama Nobunaga Oda, Kideyoshi Toyotomi, dan Ieyasu Tokugawa yang berhasil menyatukan Jepang selama 40 tahun kedepan. Prestasi dan usaha yang mereka dapatkan tetap diperingati dalam sejarah dan adat istiadat orang Jepang. Beberapa orang Jepang mengatakan : “Nobunaga menumbuk padi, Hideyoshi mengaduk adonan, dan Tokugawa yang memakan kuenya”. Dengan kata lain, ketiga jenderal inilah yang plaing berperand alam menyatukan Jepang. Tetapi Tokugawa, orang terakhir dari jenderal hebat ini kemudian menjadi seorang Shogun. Keluarga Shogun Tokugawa kemudian memerintah negara Jepang dari tahun 1615 sampai 1867. Era ini dikenal dengan “Tokugawa Shogunate”. Dalam masa kepemimpinannya, strategi kemiliteran yang diterapkannya yang membuat Jepang selama berabad-abad telah menjadi bagian awal dalam terminologi candlestick. Kemampuan dalam strategi, psikologi, kompetisi, strategi untuk membalikkan keadaan dan keberuntungan menjadi kebutuhan dalam memenangkan peperangan. Jadi tidaklah mengherankan dalam candlestick terdapat istilah “Advancing Three Soldiers Pattern”, “Counter Attack Lines”, dan sebagainya. Stabilitas relatif dalam sistem feodal pusat Jepang, yang dipimpin oleh Tokugawa menawarkan kesempatan baru. Perekonomian agraris berkembang pesat dan yang terpenting menjadi pengembangan dan kemudahan dalam perdagangan domestik. Pada abad ke-17, perdagangan nasional lambat laun menggantikan sistem perdagangan pasar lokal yang terisolasi. Konsep perdagangan yang terpusat merupakan cikal bakal dari analisa teknikal di Jepang. Sebelum tahun 1710, rakyat Jepang melakukan transaksi perdagangan beras dengan cara menukarkan beras dengan beras asli lainnya. Transaksi yang terjadi adalah mereka menawar, meningkatkan penukaran beras dan menentukan harga pasar. Setelah mengalami perkembangan jaman dan pergeseran cara bertransaksi hingga tahun 1710, perdagangan beras ini kemudian mulai menggunakan tanda terima yang dikenal dengan kupon beras. Tanda terima beras inilah yang menjadi kontrak pertama antar pedagang yang pertama. Perdagangan beras saat itu menjadi dasar dari kemakmuran kota Osaka, yang mana terdapat lebih dari 1.300 distributor beras. Pada saat itu, selain tidka mempunyai nilai mata yang yang standar (saat itu masa peralihan dari mata uang koin menjadi alat tukar lainnya gagal) beras menjadi penukaran defakto menengah. Jika seorang daimyo yang sedang membutuhkan uang, i9a akan mengirim kelebihan berasnya ke Osaka dan kemudian akan disimpan dalam gudang dengan label namanya, dan kemudian ia akan menerima kupon sebagai tanda terimanya. Ia pun dapat menjual kuponnya setiap saat. Berhubung karena masalah pajak yang dirasakan oleh para daimyo, mereka pun sering menjual kupon berasnya untuk menghindari pajak pengiriman beras berikutnya dari pemerintah (pajak sebesar 40% – 60% yang harus ditanggung oleh daimyo sesuai dengan panen dan dibayar dalam bentuk beras). Dengan adanya sistem kupon ini, merupakan solusi yang sangat efektif dijalankan dalam perdagangan. Kupon beras yang dijual untuk menghindari pajak pengiriman berikutnya inilah yang menjadi “world’s first future contracts”. Kupon beras biasa disebut sebagai kupon “beras kosong” (dimana beras tidak dimiliki dalam bentuk fisik sesungguhnya). Dari latar belakang inilah, kemudian muncul seorang yang bernama Munehisa Homma (1724 – 1803). Homma merupakan seorang anak terbungsu dari seorang saudagar kaya di Jepang. Ia kemudian ditunjuk untuk meneruskan bisnis keluarganya pada tahun 1750. Homma memulai kegiatan berdagang berasnya di perdagangan lokal dekat kota pelabuhan yang bernama Sakata, yang merupakan area pusat untuk mengumpulkan dan mendistribusikan beras. Dalam istilah candlestick terdapat kata “Sakata’s Rules”, sebutan ini ditujukan kepada Homma atas kepiawaiannya dalam memahami pergerakan pasar. Dari hal tersebut, kemudian Homma juga dikenal sebagai “God of the market”. Dengan modal pengetahuannya inilah Homma terjun ke dalam transaksi perdagangan beras terbesar di Osaka yaitu di Dojima dan memulai transaksi perdagangan berasnya hingga dia menjadi populer di masa depan. Kekuasan Homma sangat mempengaruhi harga pasaran beras, ia mengumpulkan laporan cuaca tahunan dan menganalisa transaksi perdagangan beras di Yodoya (perdagangan beras Dojima di Osaka) demi mempelajari psikologi para investor. Bahkan ia juga menempatkan para pekerjanya di atas dengan bendera untuk mengirim signal perdagangan dari Osaka hingga Sakata. Dengan ketekunan dan keteladanan Homma, ia berhasil mendominasi perdagangan di Osaka. Setelah itu, Homma mulai mengembangkan sayapnya dengan berdagang di pasar regional Edo (yang sekarang dikenal dengan Tokyo). Keberuntungannya sangat berlipat ganda, bahkan konon banyak sekali yang mengatakan keuntungan yang didapat oleh Homma pernah mencapai 100 kali berturut-turut. Nama besar dan kehormatan Homma oleh orang-orang di Edo dituangkan dalam lagu : “Jika di Sakata bersinar (kota Homma), maka berawan di Dojima (perdagangan beras Dojima di Osaka) dan hujan di Kurumae (perdagangan Kuremae di Edo).” Dengan kata lain jika terdapat panen beras yang bagus di Sakata, harga beras turun di perdangan beras Dojima dan jatuh di Edo. Lagu ini menceritakan betapa besarnya pengaruh kekuasaan Homma dan strateginya di pasar perdagangan beras. Untuk kedepannya Homma kemudian menjadi konsultan bagi pemerintah dan diberi gelar samurai. Ia meninggal pada tahun 1803. Sebelumnya, Homma sempat menulis sebuah buku yang diperkirakan ditulis pada tahun 1700-an oleh Homma (Sakata Senho dan Soba Sano No Den). Buku ini menceritakan tentang prinsipnya berdagang, seperti yang digunakan dalam pasaran beras. Buku ini sangat mempengaruhi metodologi candlestick di Jepang dan hingga sekarang telah menjadi metode paling populer dalam transaksi bursa saham melalui pendekatan analisa teknikal.

Klick disini untuk Info lebih Lengkap Tentang Candlestick

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s